Risk Calculation Sang Sufi

Di kolam renang kemarin ternyata ada berbagai versi tanggapan orang tua terhadap polah anak-anaknya yang lebih kurang sama, main prosotan.
Ada orang tua yang langsung melarang "Jangan nak, bahaya. Nanti kamu bisa kepleset".
Ada yang ngasih ijin tapi mbuntuti terus. Megangi tangan anaknya ketika naik tangga. Megangi ketika meluncur dan mengangkat ketika njebur.. Walah repotnya.
Eee ada juga yang orang tuanya tenang tenang aja, ngadem di bale-bale. Bodo amat.

Kayaknya tiap orang punya risk calculation sendiri-sendiri ya. Buktinya : terhadap anaknya main prosotan orang tua punya risk calculation beda-beda.
Ada yang mikir itu resiko banget maka mending dilarang.
Ada yang mikir "ya emang resiko, maka perlu diawasi". Dan dia mau repot maka dia mau ngawasi.
Ada yang mikir "ah, nda bahaya kok" maka dia tenang melepas anaknya.
Ada yang mikir "bodo amat, ada banyak orang ini di kolam saya serahkan ke orang-orang wae..pengawasan anakku" dia juga tenang aja ngelepas anaknya main prosotan. Ato dia nda tahu kalo anaknya main prosotan, hehe.

Risk calculation seseorang sebenarnya ada hubungan dengan wawasan apa ya?
Misal begini : karena wawasan nya sedikit tentang kolam renang maka yang ada khawatir ini dan itu. Hasilnya di larang tuh anaknya.
Kalo wawasannya agak luas tentang kolam renang maka dia kasi tuh anaknya main, tinggal dia awasi aja. Ada yang ngawasi banyak ada yang ngawasi dikit.

Misal lagi : kegiatan arung jeram. Buat orang awam mungkin ini olahraga bahaya banget. Buat orang yang punya wawasan dengan arung jeram, ini kegiatan yang masih bisa diterima kok risk calculationnya.

Saya jadi me-runut pemikiran ini begini : risk calculation berhubungan dengan wawasan, makin besar dan dalam wawasannya maka risk calculationnya makin luas. Hasilnya dia makin leluasa bertindak. Yang menyebabkan dia khawatir makin dikit. Sekarang siapa coba yang bisa mengalahkan wawasan seorang yang sangat mengerti sifat Penolong Tuhan. Tentu risk calculationnya jadi lebar dan longgar banget.



Para sufi sangat yakin akan pertolongan Allah. Maka dia malah memilih hidup di tengah padang pasir. Nda ada makan. Nda ada minum. Dan dia emang sengaja nda bawa bekal. Risk calculationnya beda ama kita-kita. Dan risk calculationnya yang tinggi itu digerakkan oleh wawasannya tentang hidup, tentang dunia dan tentang Tuhan yang demikian dalam.

Hayo… siapa yang mau test Kebesaran Allah, test wawasan hidup, test melebarkan pertimbangan risk calculationnya dengan action bisnis…..??? Hehehe. Hidup toh hanya sekali, ngapain nda ngerjain yang diingini ya? Kapan lagi coba.

Kalo pingin merangkul matahari ibaratnya, ya lakukan saja. Kalo ingin menjaring matahari, ya kerjakan saja.
Yang kita anggap resiko bisa jadi resikonya nda ada, yang kita anggap nda mungkin bisa jadi mungkin aja. Tergantung wawasan aja semuanya. Tergantung kedalaman pengetahuan kita tentang Tuhan aja. Dan pengetahuan tentang Tuhan ternyata semua datang dari mengalaminya sendiri. Dari peraketek ( =praktek )…. Kata orang Malang.

Tetap = Ternyata Aku Telah Berubah, Pak

Aneh!! Dulu saya begitu gemar bola. Saya ikut segala pesta pora kemenangan Arema di Liga Indonesia padahal hanya punya 13 pemain. Maklum mana ada sih anak laki kota Malang nda gemar bola. Sekarang kemana ya segala semangat demen itu?

Genesis Era Peter Gabriel

Aneh!! Dulu juga saya ngefans banget Genesis, Yes, Pink Floyd. Iron Maiden juga ngefans. Maklum anak laki kota Malang nda ada yang nggak hobi rock terutama art rock dan heavy metal murni. Kemarin coba-coba setel koleksi lama itu. Hasilnya puziiing. Sekarang kemana ya rasa demen itu?

Dulu saya muda suka heran kok bisa ya ada orang nda doyan musik rock? Wong bagus kok nda suka. Kok bisa ya sepakbola seru gini ada orang nda peduli? Buta apa ya nda bisa menyelami asyiknya nonton bola. Ngomentari pemain seolah lebih pintar dari pemain-pemain dunia itu. Berteriak-teriak sampe serak. Sekarang malah saya ngalami sesuatu yang dulu saya heran-in. Nda peduli ada bola seru kayak apa kek, mending saya mlungker, mlumah dan mengkurep di kasur. Nda tahan ndenger kaset rock yang dulu saya demenin. Weee. Apa ini kuwalat. Yang jelas, saya jadi paham sesuatu : Ternyata perubahan itu ada. Dan terjadi. Di dalam kita dan di sekitar kita.

Ketika perubahan itu terjadi sakitkah saya? Kayaknya nda deh. Sesuatu yang kita heran-i, kita anggap aneh, mungkin juga kita takuti jika terjadi ke diri kita, ketika waktunya tiba, dan kita berubah justru menjadi yang kita heran-i, kita takuti, nda ada tuh sakit, nda ada tuh takut-takut itu. Semua terjadi dan begitu aja terjadi. Prosesnya begitu alami.

Saya jadi sadar juga akan sesuatu hal lain. Di dalam kita yang terjadi adalah menganggap dunia seperti kita pikir dan rasa. Padahal dunia berjalan aja dengan jalannya. Nda sesempit pikiran kita dan perasaan kita.

Lalu ngapain ya kadang kita begitu terjebak dengan perasaan, anggapan, pikiran kita. Menurut saya, Menurut kacamata saya. Lalu dengan anggapan, pikiran itu lah kita serta merta men-judge : ini orang nda bener nih. Ini kumpulan nda bener nih. Kadang dalam saat itu jadi deh kita nyakiti orang. Aduuh… Bisa jadi kita belum sampe aja waktunya untuk berubah. Kayak saya ( muda ) yang heran kok ada orang nda suka bola dan akhirnya saya ( tua ) masuk ke golongan yang nda suka bola… hehehe. Mending kita pasang sabar aja kali ya. Meniti waktu hingga perubahan itu terjadi.

Trus.. Trus.. Kalo sekarang kita heran juga… itu orang-orang kok pada berani ya cabut dan pergi keluar, terjun ke dunia usaha. Padahal kan lagi krisis? Padahal kan lagi bejibun orang PHK? Padahal kan orang lagi turun daya beli? Apa ya nda mati bangkrut tuh diluaran sana? Buta apa? Kurang perhitungan apa? Kayaknya yang terjadi persis juga saya (muda) yang heran pada orang yang nda seneng musik rock. Eee sekarang berubah jadi pusing ndenger musik rock. Pasti yang heran nanti juga berubah…. Puzzzing kalo nda bisnis…. Hehe.

Perubahan itu memang ada ya…. Bahkan lawan kata "perubahan" pun yaitu kata "tetap" sebenarnya singkatan dari "Ternyata Aku Telah Berubah, Pak" Hehehehe.
Just elegi pagi…

Bisnis Di Mata Saya

Bisnis di mata saya :

Benar-benar seperti peragaan kata-kata saya sendiri
"Hidup memang untuk merasakan manisnya permintaan yang kesampaian…"
http://heruutomo-arema.blogspot.com/2008/11/kerjakan-saja-apa-yang-kau-mau.html

Contoh :
Saya beberapa kali jalan-jalan dengan teman di Tamini Square
Sekedar menguatkan mimpi bahwa satu saat kami bisa jadi salah satu pemain di mall itu
Tahu-tahu ada di milis kita tawaran pak Agustaf Alvi mengenai kiosnya http://finance.groups.yahoo.com/group/tangandiatas/message/56422

Dengan jalan yang menurut saya begitu dimudahkan, Alhamdulillah ya Allah, terima kasih pak Agustaf,
Alhamdulillah kemarin saya start buka kios di Tamini Square per 19 April 2009 kemarin.
Rencananya akan di set menjadi yang pertama dan satu-satunya di mall itu : Kafe Herbal !!

Ini sekaligus pengumuman saya ya. Buka toko herbal yang ketiga dalam 10 bulan sejak start usaha.
Silakan mampir, di depan penitipan barang carefour Tamini Square, deket konter B29 dan optik Optima.
Konter jual teh Rosella siap minum kayak teh poci gitu. Rp 2.000 pake gelas, kalo pake ember belum saya hitung ?!!?

Bisnis di mata saya :

Benar-benar seolah menapaki kenyataan bahwa
"Toh Hidup memang untuk menyadari bahwa 'Kita tidak pernah sendiri…' "

Dalam bisnis, kadang ada kenyataan-kenyataan unik. Misal : hubungan bisnis kadang terjadi tidak melulu karena penilaian kompetensi dan kelayakan yang rumit, tapi semata "kamu sudah menjadi temenku" atau bahkan " kamu temen dari temenku". Hubungan bisnis terjadi tiba-tiba melompati tahap seleksi, tahap test bakat, tahap test kemampuan, tahap test wawancara dsb. Karenanya dalam bisnis, membuat diri kita di kenal oleh banyak orang adalah penting. Supaya kita dikenal banyak orang, ya kenalan lah dengan banyak orang . Supaya disalaman-i banyak orang, ya salaman lah dengan banyak orang. Itu berarti anjurannya, dalam bisnis perbanyaklah BERSILATURAHMI!!

Tapi Silaturahmi saja tentu tidak jadi jaminan. Karena silaturahmi juga berarti membuka diri Anda, orang akan tahu siapa Anda sebenarnya. Perilaku Anda lebih keras terdengar dari pembicaraan Anda - kata Stephen Covey. Tentu saja ada lagi modal yang diperlukan agar silaturahmi jadi kekuatan baik buat Anda… yaitu : jadilah Bisa Dipercaya. Bisa dipercaya dalam dataran bisnis, selain akhlak bawaan juga menyangkut adanya keahlian - capable. Dan itu, sesuatu yang benar-benar ada di wilayah yang bisa Anda ubah.

Menurut saya, tidak peduli kita masih TDB, sedang amphibi, ataupun sudah full TDA, asset yang harus mulai kita bangun adalah menjadi pribadi bisa dipercaya. Orang yang bisa dipercaya bisa mengumpulkan modal begitu mudah dan cepat. Melebihi kemampuannya sendiri untuk mengumpulkan modal. Orang yang bisa dipercaya bisa meretas jalan bisnisnya begitu cepat dan mulus, bahkan melebihi kemampuan tampak-nya.

Bisnis di mata saya :

Ketika takut melanda ( Takut akan kelaparan?… takut akan kehilangan? … takut akan ditinggalkan? )
Itulah saat dimana justru harus : Ya...Melangkah Sajalah!!

Ketika saya resign Feb 08, saya sedang mengalami rugi 20 jutaan,
Gimana bisa ngidupin orang serumah ya? Gimana bisa ngirimin bapak di desa ya?
Saya pun takut, saya merasa kecil, tapi saya tetep melangkah
Akhirnya saya tetep resign lha wong udah diselenggarakan farewell party, mosok arep balik kucing
Ternyata saya toh bisa makan hingga sekarang. Bapak di desa tetep senyum karena tetep ada kiriman

Ketika merasa stag di kapasitas bisnis saya di Des 08,
Tahu tahu ada Pak Haji Alay ulurkan kios jadi kepanjangan tangan bisnis saya…. Nda usah bayar, Ru
Saya takut, saya merasa kecil, tapi saya tetep melangkah
Hasilnya, Tanah Abang seolah udah ada di genggaman nih… hehe, minimal kartu parkir ada di genggaman kan?? Wek!

Ketika ada tawaran kios Tamini pun sebenarnya saya bener-bener nol
Bisnis herbal saya sedang bagus-bagusnya. Sehingga putaran dananya cepat dan banyak kebutuhan disana.
Lalu disini saya mau dapat dana dari mana???
Saya sungguh ragu, saya sungguh dalam titik paling sendu
Lha ya kok tahu-tahu plug… ada YM masuk dari temen SMA dulu….
"Usahamu kayaknya lagi maju, saya tanam modal ya?" Allah is the great Kreator & Planner.

Jadi, bisnis di mata saya :

Seolah peragaan keMaha Kasihnya Allah di dunia, buta kalo nda bisa ngelihatnya,

Hari Pertama Buka Kios di Tamini Square



Selasa, 14 April 2009 ( siang dhuhur )

Ditandatangani surat perjanjian Pak Agustaf Alvi meminjamkan kiosnya di Tamini Square blok LS 82 / 3 lantai Lower Ground. Depan Carrefour Tamini Square. Selama sebulan 13 April s/d 13 Mei 2009. GRATIS !!!
Hanya dikenakan service charge selama sebulan itu Rp 500.000 yang dibayarkan di muka.

Hari itu juga rundingan ama partnerku Eko Saputro, temenku sekamar kost dulu di sekolah AROS, enaknya bisnis apa ya di dalam kios itu.
Gila! Kiosnya dapat dulu baru nyari-nyari mau diisi bisnis apa??
Ada 2 alternatif
1 Herbal, 2 distro. Keduanya masih sedkit lah saingannya di Tamini Square. Tapi kedua choice itu butuh modal awal untuk ngisi-in barang. Gimana nih??
Kalo buka distro butuh dana untuk beli kaos-kaosnya. Kalo herbal relatif dananya bisa diadakan yaitu berupa langsung barang diambil dari kiosku di KS Tubun. Tapi ya nda maksimal.


Rabu, 15 April 2009

Sore itu tahu-tahu ada temen se SMA dulu kontak ke YM ku : nanam modal boleh nda???
Hahh... Allah menjawab begitu cepaaaat. Tentu saja langsung aku respon...


Kamis, 16 April 2009

Nyewa mobil, ngangkut dan masukkan ke kios 1 buah kulkas chiller, 1 set konter teh Rosella ke kios Tamini Square. Murah ! Ngangkut chiller dari Tomang dan Teh Rosella dari Pondok Gede kena Rp 150.000.

Lalu aku menemui teman satu SMA dulu... menjelaskan bisnisku. Ya ternyata positif dia mau nanam modal ke usaha baru ini. Subhanallah!!


Jumat, 17 April 2009

Belanja-belanja, ambil uang modal. Kami tandatangani surat perjanjian bagi hasil. Bismillah semoga bisa amanah. Keputusannya aku mempola bisnis di Kios Tamini itu menjadi bisnis herbal. KAFE HERBAL.


Sabtu, 18 April 2009

Ke Tamini Square. Buka Kios hari pertama nih. full team nungguin seharian.... weeee seru. Aku, partnerku Eko dan anak istrinya, dan 1 pegawai.
Seneng juga nih di hati. Oooh, gini ya perasaan punya kios di mall itu.
Alhamdulillah hari pertama nda bolong. Teh Rosella siap sajinya laku 25 gelas. Beberapa obat herbal juga laku. Dapat duit berapa nih... 100 ribuan... hehehhe
Lha wong teh rosella-nya segelas yang harusnya dijual 3.000 kami jual 1.500.
Diskon abiiis!!

Semoga menjadi berkah buat semua yang terlibat. AMiiiiiin !!

Suami Suami Takut Allah II



Suami yang takut Allah itu :
1. Yang mencari 3 hal di dunia ini sebagaimana Sabda Nabi ketika ditanya sahabat Umar : Lidah yang selalu berzikir kepada Allah, hati yang penuh rasa syukur dan istri yang amanat. Ketiga hal itu bisa dilatih dan bisa terjadi salah satunya adalah karena ada teladan. Istri yang amanat tentunya adalah hasil dari teladan ayahnya dahulu dan teladan suaminya sekarang.
2. Mencukupi anak istri. Suatu kali, ketika Ibnu Mubarak sedang berpidato ketika salah seorang bertanya : adalah pekerjaan lain yang lebih memberi ganjaran selain jihad? Jawabnya : Ya. Yaitu memberi makanan dan pakaisn kepada istri dan anak dengan sepatutnya. Waliyullah Bisyr Hafi berkata : Lebih baik bagi seseorang untuk bekerja bagi istri dan anak daripada bagi dirinya sendiri. Dalam hadits Nabi juga diriwayatkan bahwa beberapa dosa hanya bisa ditebus dengan menanggung beban susah payahnya mencari nafkah untuk keluarga.
3. Seorang wali istrinya meninggal dan dia tidak berniat untuk kawin lagi meski orang-orang memintanya. Alasannya agar lebih mudah beribadah dan mendekatkan diri pada Allah. Pada suatu malam ia melihat dalam mimpinya pintu surga terbuka dan beberapa malaikat turun. Dan menyapanya, "inikah orang celaka dan egois itu? Sang Wali terheran. Siapa yang dimaksud. Lalu seorang anak laki lewat dan berkata : Anda lah yang sedang mereka bicarakan. Baru minggu lalu perbuatan baik Anda dicatat di surga bersama wali-wali yang lain. Tapi sekarang mereka telah menghapuskan nama Anda dari buku catatan itu". Setelah terjaga dia pun segera berencana untuk kawin.
4. Bersabar atas ketidakmasukakalan sikap dan ketidakberterimakasihan istri. Nabi bersabda : Sesorang yang mampu menanggung ketidakenakan yang ditimbulkan oleh istrinya dengan penuh kesabaran akan memperoleh pahala sebesar yang diterima Nabi Ayyub tasa kesabarannya menanggung bala yang menimpanya. Pada saat sebelum wafat orang mendengar Nabi bersabda : teruslah berdoa dan perlakukanlah istri-istrimu dengan baik. Karena mereka adalah tawanan-tawananmu.

Saat Valentino Rosi terjatuh di tikungan...

Surat dari sahabat :

Minggu kemarin saya conference online dengan 2 orang teman lama saya
yang sekarang sama-sama berada di luar Jawa. Saat itu secara tidak
sengaja kami (lagi-lagi) ditemukan dalam facebook dan akhirnya untuk
mengisi kangen-kangenan kami sepakat untuk conference via YM (karena
facebook belum bisa hehehe).

Diskusinya ngalor ngidul (kesana kemari, bahasa jawa) hingga akhirnya
sampai ke diskusi yang menarik : masalah karir. Yang lebih menarik
ketika terjadi perdebatan antara menjadi enterpreneur dan karyawan. 6
tahun yang lalu kedua teman saya tadi sama-sama baru memutuskan langkah
karirnya. Satunya (sebut saja si A) memilih menjadi pengusaha jamur. Dan
satunya lagi (sebut saja si B) memilih menjadi employee di perusahaan
asing di Kaltim.

Yang saya tahu, 6 tahun yang lalu dalam melakukan start karir, kalau
diibaratkan balap Moto GP, teman saya si A ini bisa dikatakan berada di
posisi 20, sedangkan teman saya si B sudah menempati pole position di
posisi ke 10. Itu tak lain karena teman saya si A dalam membangun
bisnisnya harus benar-benar bekerja keras. Dengan modal seadanya hasil
pinjaman sana-sini, teman saya tadi memulai jualan jamur di pasar-pasar.
Kehidupannya di tahun pertama bisnisnya sedikit memprihatinkan. Tak
jarang karena cicilan pinjamannya yang sering nunggak karena bisnisnya
belum sepenuhnya jalan, teman saya ini menjadi langganan teror debt
collector. Berbeda dengan teman saya si B, begitu diterima di perusahaan
besar, gaji awalnya sudah lumayan besar untuk saat itu : sekitar 6 juta
per bulan (lumayan besar untuk ukuran usianya waktu itu :) ).

Tahun pertama, tahun kedua, lalu tahun ketiga....
Kedua teman saya tadi tetap berada di 'jalurnya'....
Teman saya si A, mulai mempunyai pasarnya sendiri, sepertinya dia
sekarang sudah sangat paham dengan bisnisnya, intuisinya sudah sangat
bagus dalam bisnis per-jamur-an. Relasinya-pun juga sangat luas sekali.
Bisnisnya mulai berkembang sedikit demi sedikit.
Teman saya si B-pun karirnya juga naik. Selain jabatannya yang naik,
tentunya pendapatannya juga naik.

Di Tahun ketiga ini mereka berdua 'bersaing ketat'. Kalau diibaratkan,
bisa dibilang teman saya si B sudah menempati posisi ke 8, berhasil
menyalip 2 pembalap lainnya. Namun teman saya si A, yang start dari
posisi ke 20 sekarang sudah ada di posisi ke-9. Menyalip 11 pembalap
lainnya!

Tahun ke-4, si A sudah mulai bisa mengejar si B, dan meninggalkannya
pelan-pelan...
Dan Tahun ke-5, teman saya si A benar-benar mengalami masa jayanya dalam
berbisnis. Kalau diibaratkan dia sudah menempati posisi ke-1, sementara
si B, masih akan naik ke posisi ke-7.
Dengan pasar yang sudah berhasil didominasinya di daerahnya, jaringan
bisnis yang relatif luas, tak heran teman saya si A ini bisa menikmati
hasilnya dengan sangat memuaskan.

Dalam perbincangan malam itu, bukan perjalanan karis selama 5 tahun
tersebut yang menjadi seru. Yang paling seru adalah perbincangan ketika
mereka berdua meniti karir di tahun ke-6.

Teman saya si B ternyata hanya masih akan menempati posisi ke-7.
Sedangkan teman saya si A, kembali ke posisi 20. Bisnisnya hancur karena
ditipu oleh rekan bisnisnya. Sekarang dia harus memulai bisnisnya
kembali dari nol (bahkan minus)! Rupanya teman saya si A ini sedang
terjatuh di tikungan karena motornya terlalu kencang..?

Diskusi kami menjadi menarik saat kedua teman saya tadi sama-sama
mengklaim bahwa profesinya-lah yang paling bagus. Teman saya si A, meski
sedang dalam kebangkrutan, namun dia masih teguh untuk tetap berkarir di
jalur enterpreneur. Begitu juga dengan si B, melihat menjadi
enterpreneur mempunyai resiko besar, dia memilih aman dengan menjadi
employee. Padahal menurut saya tidak ada profesi yang aman di dunia ini,
employee juga terancam PHK jika perusahaanya bangkrut. Kalau kita lihat
sekarang ini, perusahaan besar macam GE, atau bahkan AIG pun terancam
bangkrut. PHK ada dimana-mana...

Belajar dari kejadian diatas, kalau saya disuruh memilih kedua profesi
tadi, saya tetap memilih menjadi Enterpreneur. Alasannya bukan karena
selama ini saya juga terjun di dunia yang sama dengan teman saya si A
tadi dengan menjadi Enterpreneur, tetapi menurut pendapat saya:

1. Menjadi enterpreneur itu tidak ada batasannya, no limit. Baik dalam
hal pendapatan maupun juga kerugian. Dalam sebulan mungkin kita bisa
profit 1 juta, 10 juta, 100 juta, 1 Milyard atau bahkan 1 Triliun!
Tergantung bagaimana kita memanage bisnis kita. Tapi resikonya juga
besar, tak jarang kita juga mengalami kerugian dalam sebulan 1 juta, 10
juta, 100 juta, 1 Milyard juga bahkan rugi 1 Trilyun. Menjadi employee
relatif 'aman' (meski sebenarnya juga tidak aman, karena pemilik
perusahaannya kan juga pengusaha yang mempunyai ciri2 diatas hehehe..).
Namun dengan pola linier, pendapatannya juga meningkat konstan (yang
kalau dihitung ternyata tak lebih dari pertumbuhan ekonomi negaranya :)
). Dalam hal no limit tadi, tergantung mindset kita : berpikir positif
untuk meraih profit tinggi, atau berpikir negatif dengan takut mengalami
kerugian besar.. bukan begitu..?

2. Meski sekarang teman saya si A tadi sedang jatuh, namun saya melihat
dengan pengalamannya selama 6 tahun dalam bisnis yang dijalaninya,
dukungan networknya yang luas, intuisi bisnisnya yang bagus dan mental
tangguh yang dimilikinya selama ini, saya sangat yakin sekali tidak lama
lagi teman saya ini bisa bangkit dan bahkan melejit melebihi titik
pencapaiannya tertinggi dalam bisnisnya sebelum dia jatuh tadi.
Sementara teman saya si B tadi, jika dalam posisi di PHK atau bahkan
mengalami kejadian yang sama dengan teman saya si A tadi, saya yakin
tidak 'secepat' si A sewaktu bangkit.

3. Kalaupun misalnya kedua teman saya tadi tidak diberikan umur panjang
(semoga saja tidak demikian) tentunya teman saya si A tadi sudah pernah
menikmati 'indahnya' dunia dengan pernah menjadi pembalap terdepan di
posisi-1 (meski akhirnya jatuh). Dan teman saya tadi (si B) meski
hidupnya 'aman-aman saja' namun semasa hidupnya tidak pernah merasakan
posisi ke-1. Hussssssshhhh ini hanya khayalan saya saja loh... tidak
perlu dimasukkan ke hati ya..? hehehehe...


Menjadi employee mempunyai pendapatan linear (yang katanya relatif
'aman') . Jadi kita bisa memprediksi perkembangan karir employee
tersebut. Misalnya di tahun ke-10 berkarir di perusahaan X tersebut
maksimal kita sudah ada di level jabatan dengan gaji berapa, sehingga
tentunya kita bisa memprediksi bagaimana kualitas hidup kita di tahun
ke-10 tadi.

Menjadi Enterpreneur, karena tidak ada batasannya - no limit, kita bisa
menentukan sendiri kualitas hidup 5, 10, 20 tahun mendatang. Karena
semuanya ada di tangan kita. Mau masuk gigi -2 oke.... masuk gigi-4 pun
dengan memencet tombol NOS supaya bisa melejit kencang juga oke....
tergantung kita bagaimana me-manage bisnis kita. Tapi awas, kalau jatuh
juga sakit hehehe...

Jadi, yang mana pilihan hidup anda..?
Kalau saya tetap teguh memilih menjadi Enterpreneur,
Enterpreneur yang berpikir positif :)

--
Donny Kris P.
| WinnerTech | www.winnerlab.com | Simply Interactive | www.simply.web.id
YM : donnykris